Saturday, September 25, 2010

MBAK IRMA

Sedarah : 002 : MBAK IRMA
[ Score: 7.34, Vote: 322 ] -
"Hey kok ada di sini!" Kami sama-sama kaget ketika sore itu bertemu di front desk sebuah hotel terbaik di Yogyakarta.
"Baru datang?, Mbak Irma sama siapa?" tanyaku.
"Sendiri," jawabnya, "Udah berapa lama disini?" ia balik bertanya.
Mbak Irma adalah istri kakak iparku. Ia baru datang mendapat tugas mendadak dari kantornya dan besok sore sudah pulang lagi ke Jakarta. Sedangkan aku baru pulang dari tempat kerja, sudah tiga hari di Yogya dari rencananya seminggu. Karir Mbak Irma di kantornya memang cukup baik, bahkan penghasilannya jauh lebih baik ketimbang suaminya. Jika bertemu aku, ia cukup antusias membicarakan masalah-masalah pekerjaan. Sedangkan suaminya biasanya diam saja mendengarkan dan tidak bisa mengikuti pembicaraan.

Mbak Irma mempunyai paras yang cantik, tetapi yang lebih mengundang pikiran jorok para lelaki adalah tubuhnya yang mungil dan sintal amat seksi. Menyadari kelebihannya itu, ia selalu memakai celana panjang dan baju-baju atau kaos yang ketat. Seakan sengaja mempertontonkan buah dada dan lekukan-lekukan indah tubuhnya. Terus terang setiap bertemu atau berbicara dengannya aku tidak kuat lama-lama menatapnya. Aku seringkali berpaling ke arah lain kalau berbicara dengannya. Keadaan itu justru membuat janggal hubungan kami. Mbak Irma seakan mengerti usahaku untuk menjinakkan liar mataku. Aku hampir tak pernah bisa bicara dengannya secara santai. Parasnya yang sensual selalu membuatku gelisah. Pernah suatu saat aku mencoba untuk bersikap santai berbicara sambil menatap matanya yang bening. Tetapi lama-kelamaan mataku terasa berat kemudian semakin berat lagi seolah menahan beban puluhan ton. Akhirnya mataku merasa capai sehingga kemudian pandanganku turun, kemudian turun lagi dan berhenti pada buah dadanya yang menyembul di balik kaosnya yang ketat. Aku menarik nafas panjang sebelum kemudian tersadar kembali. Akan tetapi kesadaran itu sudah terlambat, Mbak Irma telah menangkap basah kelakuan mataku yang nakal. Entah apa yang dipikirkan Mbak Irma saat itu. Ia kemudian merubah posisi duduknya. Setelah kejadian itu aku semakin tidak berani menatap Mbak Irma.

Akan tetapi sekarang Mbak Irma ada di depanku. Setelah check in, aku membantu Mbak Irma membawakan tasnya ke kamarnya. Ketika berjalan di lorong hotel, aku sempat memperhatikan pantat Mbak Irma yang sintal seolah meliuk-liuk menggoda kejantananku. "Lumayan juga hotelnya," ujarnya sambil memperhatikan sekeliling kamar. Setelah menyimpan barang-barangnya di lemari, aku kemudian duduk di kursi menghadap ke tempat tidur. Sementara itu Mbak Irma kemudian melepaskan jaketnya sehingga kini yang tersisa adalah tang top-nya yang berwarna hitam dengan celana ketatnya berwarna hitam juga. Dengan baju yang relatif minim itu, kini belahan dada dan pangkal lengan Mbak Irma semakin terbuka. Aku mengagumi begitu mulus dan putihnya tubuh Mbak Irma.

"Aduh capai juga," gumannya. Setelah minum aqua yang tersedia di meja kecil kemudian dia berjalan menghampiri tempat tidur. Tidak disangka-sangka ia kemudian membalikkan badannya kemudian merebahkan badannya di tempat tidur sementara kakinya menggantung ke lantai. Apa yang terlihat adalah onggokan kewanitaannya yang menyembul di balik celananya yang relatif tipis. Bahkan belahan diantara dua bibir kemaluannya pun tampak dengan jelas terlihat. Suasana dalam kamar yang hening dan nyaman itu ikut membantu meningkatkan nafsuku. Detak jantungku semakin terasa memburu. Aku merasakan ada aliran panas antara jantung sampai ke tenggorokan. Nafasku menjadi tersengal-sengal. Beberapa kali aku menarik nafas panjang mencoba menenangkan diri. Kejantanan dan sekitarnya terasa panas dan kaku atau entah apa rasanya.

Kini kepalaku terasa pusing, mungkin peredaran darahku menjadi tidak teratur. Dalam keadaan tersebut pikiran warasku telah terbang entah ke mana. Aku mencoba lagi sekuat tenaga untuk mengendalikan diri, terlintas di pikiranku untuk segera lari secepat kilat menerjang pintu menjauhi situasi yang sangat menyiksa itu. Akan tetapi semakin lama aku semakin tidak dapat mengendalikan diri. Dalam pikiranku, aku ingin berbuat sesuatu. Kalaulah nanti terjadi apa-apa dan Mbak Irma marah, aku akan segera balik menyalahkan Mbak Irma, kenapa bersikap begitu, mengundang nafsuku sebagai laki-laki yang normal. Tekadku sekarang telah terfokus. Aku ingin meraba onggokan indah di selangkang Mbak Irma itu. Akan tetapi tanganku kini menjadi kaku. Seakan erat menempel pada sandaran kursi. Akan tetapi kepalaku yang sudah semakin pusing dan darahku yang semakin mendidih telah mendorongku untuk berbuat nekat.

Setelah aku berdiri, tampaklah wajah sensual Mbak Irma beserta dua payudaranya yang montok. Matanya menatapku, mestinya dia tahu gelagatnya bahwa aku sedang mendekatinya. Kalaulah dia akan menolak, semestinya dia segera merubah posisi tubuhnya pikirku. Akan tetapi ia hanya menatapku. Berarti dia tidak menghindar terhadap semua kemungkinan yang akan terjadi pikirku. Tanpa basa-basi aku mengelus onggokan yang kuimpikan itu, kemudian aku berjongkok mencium onggokan itu dalam-dalam. Aku menciumnya dengan nafas yang panjang sampai paru-paruku penuh. Betul juga dugaanku, dia tidak marah. Dia menggelinjang sebentar, tanpa merubah posisi tubuhnya. Setelah menciumnya dengan penuh kelembutan, aku bangkit kembali, kemudian merayap di tempat tidur menghampiri wajahnya.
"Mbak aku nggak tahan.." ucapku mesra.
"Ah Ronny.." sahutnya.
"Mbak, aku ingin menyetubuhimu," godaku.
Sengaja aku mengucapkan kata-kata jorok untuk membangkitkan birahinya. Dia tertawa kecil.
"Ron, seharusnya jadwalku ke Yogya baru minggu depan, tetapi sengaja kupercepat menjadi hari ini setelah tahu bahwa kamu ada di sini," ucapnya.
Nah lo. Pengakuannya bagaikan guntur yang menggema ke seluruh ruangan. Berarti dia ingin ketemu aku.

"Mbak.." gumanku. Aku segera merangkulnya kemudian menyeret tubuhnya ke atas sehingga seluruh tubuhnya kini berada di atas kasur. Aku memeluknya, menindihnya, kemudian menciumi pipi kiri dan kanannya penuh kemesraan. Sedangkan kedua tangan Mbak Irma merangkul pundakku, erat sekali. Nafas kami sama-sama memburu. Terasa kenyal buah dadanya. Lama aku menggumulinya, menciumi lehernya kemudian bawah telinganya baik kiri maupun kanan. Kami sama-sama menarik nafas panjang. Mbak Irma ternyata sangat bernafsu. Bibir sensualnya menyambar bibirku, kemudian kami saling mengulum. Tampaknya ia mencari lidahku, kemudian kujulurkan dan langsung dia hisap dalam-dalam. Tangan Mbak Irma terus merayap-rayap di sekitar punggungku. Kini selangkangan Mbak Irma terasa bergerak mengangkat ke atas dan ke bawah.

Kemudian aku duduk, kupelorotkan celana panjangnya berbarengan dengan CD-nya sampai benar-benar terlepas. Tidak begitu susah karena karet di sekitar pinggang celananya yang lentur, demikian juga Mbak Irma ikut membantu. Gila benar. Di hadapanku terhampar pemandangan surga dunia nan indah. Kulitnya sangat mulus, putih bersih bagaikan pualam. Sementara di sekitar lubang surganya ditumbuhi bulu-bulu tipis nan halus. Sementara bibir surganya sangat indah, mungil berwarna merah kecoklatan. Aku segera mengulum bibir surganya itu. Aku remas-remas menggunakan bibirku. Kembali aku melumat bibir-bibir surganya itu dengan buasnya. Kedua kakinya kemudian ditekuk sehingga telapaknya menapak di tempat tidur. Mbak Irma menggelinjang-gelinjang naik turun. "Oh.. oh.. oh, Rud.." Aku segera menjulurkan lidah menyapu lubang surganya dari bawah sampai ke atas. Sedangkan kedua tanganku memegangi kedua paha mungilnya. Lidahku kemudian berputar-putar di sekitar klitorisnya. Gerakan pinggulnya semakin lincah lagi demikian juga nafasnya semakin memburu. Tidak lama kemudian kedua kakinya rapat menjepit kepalaku diiringi erangan panjang yang memilukan. "Oh..." Terasa ada cairan hangat mengalir dari lubang kenikmatannya. Ternyata Mbak Irma telah mencapai orgasmenya. Aku menghentikan semua aktivitasku sampai tubuh Mbak Irma lunglai. Kakinya kemudian dijulurkan lagi.

Sejenak kemudian Mbak Irma duduk, ia membuka dasi yang masih mengikat di leherku, kemudian kancing bajuku satu-satu ia lepaskan. Akupun kemudian membuka baju dan BH-nya. Wow.. Tampaklah payudara yang montok menggantung kencang di dadanya. Aku tak habis pikir, mengapa tubuh Mbak Irma begitu bagusnya. Kemudian Mbak Irma meraih ikat pinggangku, melepaskannya kemudian celanaku pun ia pelorotkan. Akirnya kami sama-sama telanjang. Sementara itu senjataku sudah tegak berdiri. Aku langsung menyambar dan melumat payudara yang ranum itu dengan rakusnya. Kemudian mendorong Mbak Irma sehingga rebah kembali. Namun Mbak Irma meronta berusaha merubah posisinya, setelah kuberi kesempatan ternyata ia berputar membentuk posisi 69, kemudian ia mengulum kejantananku. Aku menggelinjang merasakan nikmatnya permainan bibir mungilnya. Sementara itu, aku menikmati indahnya pantat Mbak Irma kemudian meremas-remasnya. Mbak Irma pandai sekali memainkan lidah dan bibirnya mengocok kejantananku. Aku menggelinjang-gelinjang lagi merasakan nikmatnya yang tiada tara. Untuk mengimbangi permainan Mbak Irma yang luar biasa, kemudian aku memainkan lubang kenikmatannya yang sudah basah tidak karuan. Kemudian aku kocok menggunakan jari tengahku. Rupanya Mbak Irma sudah tidak tahan.

Mbak Irma bergerak merubah posisinya kemudian duduk di sampingku yang kini terlentang. "Ronn.. masukin yah," pintanya memelas. Aku hanya mampu tersenyum. Mbak Irma kemudian mengangkang di selangkanganku. Ia membimbing dan mengarahkan kejantananku ke lubang kenikmatannya. Kemudian perlahan-lahan menurunkan pantatnya. Setelah kepala kejantananku masuk, kemudian ia mengeluarkannya lagi dan kemudian mengocoknya kembali. Kejantananku semakin dalam menerobos lubang kenikmatannya yang mungil. Semakin dalam semakin terasa nikmat sekali pijitan-pijitan lubang kenikmatannya. Aku tak dapat lagi menceritakan bagaimana nikmatnya saat itu, apalagi Mbak Irma adalah fantasiku selama ini. Kedua payudaranya kuremas-remas. Gerakan Mbak Irma semakin liar. Desahannya semakin kencang. "Oh.. oh.. oh.." Ia terus mengocok kejantananku. Semakin kencang. Semakin kencang lagi. Akhirnya Mbak Irma menjatuhkan badannya ke dadaku. Wajahnya lekat diselusupkan di leherku. Nafasnya tersengal-sengal. Sementara pantatku terus kudorong ke atas. "Ron aku mau keluar.." desahnya tertahan. "Aku juga Ir.." jawabku. Tak lama kemudian kami sama-sama mencapai klimaksnya. Terasa lubang kenikmatannya berdenyut-denyut meremas kejantananku. Kami sama-sama lunglai. Mbak Irma tertidur dalam pelukan di dadaku.

Sekitar sejam kemudian kami sama-sama kaget terbangun oleh dering suara telepon. Ternyata HP Mbak Irma yang berbunyi. Mbak Irma kemudian menjawabnya, "Hallo Pap.." Ternyata telepon dari kakak iparku, suaminya. Ia duduk dengan kaki kirinya bersila sementara kaki kanannya ditekuk tegak. Ia merunduk menempelkan HP di telinganya. Rambutnya terurai menutupi wajahnya. Kemudian ia menyibakkan rambutnya. Tampak sekali lagi wajah sensualnya seperti yang selama ini kulihat. Tapi kali ini aku melihatnya dalam keadaan telanjang bulat. Tiba-tiba nafsuku bangkit kembali. Kejantananku terasa memanas dan kemudian tegak berdiri. Aku kemudian menghampirinya dan memeluknya. Tangan kiri Mbak Irma berusaha mencegahku. Tetapi aku terus meremas payudaranya dari belakang dan menciumi pundaknya.

Akhirnya Mbak Irma mengikuti kegilaanku selagi dia telepon suaminya. Ia berusaha mengurangi pembicaraannya dan memancing suaminya untuk terus berbicara. Nafsuku semakin memburu. Demikian juga Mbak Irma. Ia menggeliat-geliat sambil memejamkan matanya. Kemudian aku membimbingnya untuk menungging. Ia mengikutinya. Nafsuku semakin memuncak lagi. Kali ini aku semakin terburu-buru. Kejantananku langsung kumasukkan ke lubang kenikmatannya dari belakang. Pelan-pelan akhirnya seluruh kejantananku masuk. Kedua pantat indahnya kupegang. Aku lanjutkan dengan mengocok kejantananku. Aku semakin bergairah kala itu. Tampaknya Mbak Irma semakin tidak tahan. Pipi kirinya jadi tumpuan di atas bantal sementara HP-nya terus menempel di pipi kanannya. Aku terus mengocoknya sampai terdengar bunyi, "Blep.. blep.. blep.." Tampaknya Mbak Irma menutup HP-nya dan dilanjutkan dengan erangan yang tadi tertahan. "Oh.. ohh.. oh.." tak lama kemudian kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan lagi. Kemudian kami berpelukan lagi. "Gila kamu," katanya sambil ketawa. Kemudian kami tertawa bersama-sama.

Ketika aku kembali ke Jakarta, aku beberapa kali menyakinkan diri bahwa tidak ada yang janggal dari sikapku. Aku takut sekali kalau perbuatanku sampai tercium. Demikian juga tatkala suatu saat Mbak Irma sekeluarga datang ke tempatku yaitu tempat mertuaku, aku berusaha menghindar darinya. Setelah basa-basi sebentar aku kemudian pergi ke halaman belakang menyiram bunga-bunga. Namun Mbak Irma memang nakal, ia malah sengaja mencari kesempatan menghampiriku pura-pura mau menjemur baju anaknya. "Ronn.. kapan tugas ke luar kota lagi?" bisiknya sambil melirik dan senyum menggoda.


TAMAT
[Masukkan Bookmark] [Baca / Beri Review]
[Oleh: arum99 - Kirim Email - Daftar Cerita]


Sedarah : 002 : TIGA KEPONAKANKU 01
[ Score: 6.64, Vote: 92 ] -
Nama-nama dalam cerita ini adalah nama yang disamarkan, tetapi ceritanya betul-betul terjadi. Sebut saja namaku Andi, pria berumur 30 tahunan. Aku ingin menceritakan beberapa pengalamanku. Cerita ini terjadi pada tahun 1993, aku diultimatum ayah untuk melanjutkan kuliah di kota kelahiranku, yaitu kota P*** (edited). Sebelumnya, aku kuliah di kota Y*** (edited) dan kuliahku berantakan karena terjerumus ke pergaulan bebas, ternyata ayah mendapatkan informasi tentang sepak terjangku sehingga keluarlah ultimatumnya.

Setelah mengurus semua surat-surat kepindahan, pulanglah aku ke kota P*** (edited) dan mendaftar di salah satu perguruan tinggi swasta. Di kota P*** (edited), aku tinggal di rumah kakak sepupuku karena orang tuaku tinggal di desa. Kakak sepupuku mempunyai 3 orang anak perempuan yang cantik dan montok. Anak pertama bernama Donna, umurnya 16 tahun. Anak kedua bernama Vivian berumur 13 tahun. Anak ketiga bernama Lisa berumur 11 tahun. Walaupun mereka bertiga masih ABG tetapi tubuhnya benar-benar montok, mungkin karena gizi dan hormon yang berlebihan.

Untuk singkatnya, aku mulai dengan pengalaman bersama Donna yang berumur 16 tahun dan baru duduk di kelas I SMU. Pada suatu siang, kami berdua nonton televisi di ruang keluarga, acaranya tidak ada yang bagus.
"Om.. tolong pijatin dong betis kakiku, capek nih habis olah raga di sekolah," kata Donna tiba tiba.
Wah... kesempatan datang nih pikirku.
"Ayo.. kamu tengkurap di sofa aja ya?" jawabku kegirangan karena merasa mendapatkan kesempatan.
Kemudian Donna telengkup di sofa dan aku duduk di ujung sofa, telapak kakinya kuletakkan di atas pahaku dan aku mulai memijat kakinya. Dengan pelan dan penuh perasaan, aku mulai memijat dari pergelangan kaki terus naik ke atas betis, bergantian kaki kiri dan kanan. Ketika aku asyik memijat betis kaki kanannya, tanpa aku sadari telapak kaki Donna menempel sesaat di kemaluanku dan kontan darahku mengalir kencang serta kemaluanku menjadi keras. Aku perhatikan Donna, apakah dia sengaja atau tidak sengaja, tetapi dia santai saja. Kemudian aku teruskan memijat betisnya dan kejadiannya berulang lagi, karena sekali ini aku yakin Donna sengaja, maka aku nekat menarik telapak kakinya dan menempelkannya di kemaluanku, ternyata Donna diam saja dan hal ini bagiku merupakan lampu hijau.

Donna semakin berani, telapak kakinya menekan-nekan halus kemaluanku dan kepalaku mulai sakit karena nafsuku mulai naik.
"Donna.. kita pindah ke kamar kamu yuk.., supaya lebih rileks," kataku penuh dengan harapan.
"Yuk ah.. Donna juga kepengen lebih rileks," katanya yang membuatku semakin kegirangan.
Setelah di dalam kamarnya, Donna langsung telungkup di atas ranjang dan aku mulai melanjutkan pijatanku. Sekali ini aku jauh lebih nekat, karena aku yakin Donna juga pasti menginginkannya. Sambil memijat betisnya, telapak kakinya kutempelkan di kemaluanku dan Donna tampaknya langsung mengerti, karena setelah itu telapak kakinya langsung menekan-nekan halus. Wajahku mulai terasa panas dan nafasku pendek-pendek, aku mulai horny tetapi aku harus sabar dan tidak boleh terburu-buru, takut Donna shock dan menyebabkan semuanya berantakan. Dengan perlahan, aku mengeluarkan penisku yang telah mengeras dari celana pendek yang kupakai.

Ketika merasakan benda asing, Donna tampaknya agak kaget dan terdiam sebentar, tetapi tidak lama kemudian dia mulai menggerakan telapak kakinya kembali. Ujung jari kakinya menyentuh halus biji kemaluanku dan terus naik ke atas sampai ke batang penis dan kepala penisku. Kadang-kadang ditempelkannya seluruh telapak kakinya dan rasanya aku benar-benar hendak muncrat keluar. Kupegang telapak kakinya dan kulebarkan jari jempolnya, kuselipkan batang kejantananku di antara jari jempol kakinya dan kujepitkan kejantananku naik turun. Wah.. rasanya benar-benar nikmat. Kuperhatikan Donna begitu menikmatinya dan aku pun yakin dia pasti sangat horny juga. Karena aku takut air maniku muncrat keluar, kuhentikan jepitan jari kakinya dan kuteruskan memijat. Pelan tetapi pasti, aku mulai memijat pahanya, karena dia juga memakai celana pendek maka dapat kurasakan kehalusan kulit pahanya yang putih dan lembut. Tanganku terus naik ke atas, ke pangkal dalam pahanya, bagian dalam pahanya kupijat pelan sambil sekali-kali kuraba. Dapat kurasakan sekali-kali Donna mengencangkan pahanya, aku yakin liang surganyaya mulai basah. Kemudian aku pindah ke pantatnya, di sana kupijat dengan memutar-mutarkan telapak tanganku sambil menekan-nekan.

Kulihat Donna mulai menggigit bantal dan menggesek-gesekan vaginanya di ranjang. Karena aku tidak mau permainan ini cepat selesai, maka aku memutuskan menurunkan libido Donna sedikit. Tanganku mulai memijat pinggang dan punggung Donna. Gerakan tanganku biasa saja karena aku menginginkan libido Donna menurun sedikit. Ketika aku memijat bahu Donna, aku sengaja duduk menimpa pantatnya. Sekarang saatnya naik lagi, sambil memijat dan meraba lehernya, batang kejantananku kugesek-gesekan di bokongnya. Sekali-kali kumasukkan jari kelingkingku ke dalam kupingnya dan Donna menggelinjang kegelian. Aku semakin horny, dengan telungkup di atas tubuhnya kujilat-jilat leher dan belakang kupingnya. Donna mendesah-desah kegelian dan keenakan.

"Oke Donna.. sekarang bagian depan," kataku sambil membalikkan badannya yang telungkup.
"He eh.." jawab Donna terdengar lemas.
Setelah Donna terlentang, aku duduk di samping tubuhnya dan mulai memijat pahanya. Kupijat pelan-pelan bagian dalam pahanya, Donna memejamkan matanya dan begitu menikmatinya. Tanganku kunaikkan sedikit, tetapi tidak sampai menyentuh kemaluannya, aku ingin Donna benar-benar terbakar. Kemudian tanganku pindah ke perutnya, kaosnya kusibakkan sedikit. Sambil meraba-raba perutnya yang kencang dan putih, kusempatkan menggelitik pusarnya dengan jari kelingkingku. Nafas Donna terdengar menderu-deru dan dia mulai mendesah-desah keenakan.

"Aduh Om... geli sekali..," katanya sambil membuka mata.
"Ngga apa-apa Donna, tahan sedikit dan nikmati saja." kataku berusaha menenangkannya.
Posisi duduk kugeser ke samping kepalanya. Sambil tetap memijat dan meraba-raba perutnya, akukeluarkan penisku yang sudah keras. Kudekatkan ke wajah Donna. Bibirnya bergetar karena baru sekali ini melihat penis dan dari dekat sekali. Kubiarkan Donna menikmatinya. Tanganku kuselipkan ke dalam celana dalamnya. Terasa bulu bulunya yang masih halus. Kupijat-pijat sambil kuraba-raba. Sekali kali kusentuh kemaluannya yang benar-benar sudah basah, kutekan-tekan halus klitorisnya, Donna mengelinjang kegelian dan keenakan. Batang kejantananku semakin kudekatkan ke wajahnya dan kugosok-gosokan di pipinya yang halus, mata Donna terpejam malu, tetapi aku yakin ia menikmatinya karena wajahnya memerah dan nafasnya menjadi sangat berat.

"Om... kepala Donna sakit, nyut-nyutan..," katanya sambil membuka matanya yang terpejam tadi.
"Oke Donna... Om tuntaskan permainan ini ya..?" kataku sambil menurunkan celana pendeknya sekalian melepaskan celana dalamnya.
Kubuka pahanya lebar-lebar, dan vaginanya benar-benar merangsang, basah mengkilap dan merah. Pelan-pelan mulai kujilat pahanya dan terus naik ke bagian dalam.
"Shhh... ah... geli Om...," Donna menggelinjang.
Kujilat-jilat lubang anusnya, bibir vaginanya dan lubang kencingnya. Terus kujilat-jilat klitorisnya sambil menghisap dan menggigit-gigit kecil.
"Ah... Om... Donna ngga tahan Om..," Donna mulai meracau liar.
Sementara itu pinggulnya mulai bergoyang-goyang.
"Tahan sebentar Donna dan nikmati saja," kataku.
Terus kujilat dan kuhisap klitorisnya, jari telunjukku kutusuk sedikit-sedikit ke lubang anusnya, sementara tanganku yang satunya meremas-remas payudaranya dan memilin-milin putingnya yang sudah keras.

"Aduh... ampun... Om... shhh... ahhh..," suaranya serak.
"Om... Om.., enak... geli... ahhh... aduhhh..," racaunya.
Kupikir sekaranglah saatnya untuk membuat Donna merasakan orgasme. Kupercepat semua gerakanku, semakin cepat dan cepat. Dan meledaklah Donna, pinggulnya terangkat, sehingga badannya melengkung.
"Ahhh... shhh... aduhhh... shhh..," teriak Donna.
Rupanya dia telah sampai ke puncak orgasme. Cairan dari liang wanitanya mengalir deras dan kuhisap serta kujilat habis. Benar-benar enak dan baunya merangsang sekali. Donna terbaring lemas, matanya terpejam, nafasnya masih tersenggal-senggal, tetapi mulutnya tersenyum manis. Kuambil tissue dan kubersihkan vaginanya, kucium lembut bibir kemaluannya, kemudian kupakaikan lagi celana dalam serta celana pendeknya.

"Kamu pasti lemas dan mengantuk ya..? Tidurlah..!" bisikku kepada Donna dan kucium keningnya.
"Terima kasih Om, lain kali kita ulangi lagi ya..?" jawab Donna sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Beres... kamu tinggal ngomong saja..," kataku sambil membalas kedipan matanya.
Kemudian aku keluar dari kamarnya, menuju kamar mandi untuk masturbasi. Bagaimanapun aku tidak tega memperawani keponakanku sendiri, cukup oral seks saja dengannya.

Aku lanjutkan dengan pengalamanku bersama Vivian yang berumur 13 tahun dan baru duduk di kelas I SMP.
"Om... ajarin Matematika dong, ada PR sekolah yang Vivian ngga ngerti." panggilnya dari dalam kamar.
"Bagian mana yang ngga ngerti?" tanyaku sambil menghampirinya dan duduk di kursi sebelahnya."Ini nih.., bagian persamaan kuadrat," jawabnya.
Mulailah aku menerangkan tahap demi tahap kepadanya, kebetulan aku sendiri menyukai Matematika. Setelah setengah jam, semua PR Vivian selesai dikerjakannya.
"Oke Vivian.., sudah selesai semua dan Om mau tidur siang," kataku sambil berdiri dari kursi.
"Sebentar Om.., jangan tidur dulu.., tolong dong pijatin tangan Vivian, memar nih..," ujarnya seraya menunjukkan lengannya yang memar.


Bersambung ke bagian 02
[Masukkan Bookmark] [Baca / Beri Review]
[Oleh: andi_slow - Kirim Email - Daftar Cerita]


Sedarah : 002 : TIGA KEPONAKANKU 02
[ Score: 6.45, Vote: 101 ] -
Sambungan dari bagian 01


Kulihat lengannya memang memar dan kuajak dia duduk di lantai. Kupijat bagian yang memar dan dia meringis kesakitan. Sambil kupijat, aku melirik payudaranya yang sudah tumbuh dan glek... aku menelan ludah. Timbul pikiran nakalku untuk mengerjai Vivian. Sambil memijat lengannya, aku memikirkan bagaimana caranya supaya bisa ngerjain Vivian. Lagi asyik berpikir, tiba-tiba aku terkejut karena Vivian dengan santainya meletakkan telapak tangannya di atas kemaluanku. Wah... pucuk di cinta, ulam tiba nih. Aku pikir Vivian pasti sengaja dan kemaluanku mulai mengeras. Tangan Vivian mulai meraba-raba dan meremas halus kemaluanku. Matanya mulai terpejam dan nafasnya berat, kulihat wajahnya mulai memerah. Aku diamkan saja dan mulai menikmati. Ternyata ABG sekarang nafsunya besar-besar, mungkin hormon mereka juga besar.

"Om.. boleh ngga Vivian tiduran di paha Om..?" tanyanya.
"Boleh.. boleh..," jawabku kegirangan.
Dan Vivian meletakkan kepalanya di pahaku. Tangannya masih tetap membelai-belai dan meremas halus kemaluanku yang berdenyut denyut. Wah... aku jadi tambah horny. Tangan Vivian semakin berani, dimasukkannya ke dalam celana pendekku melalui pahaku. Disibakkannya celana dalamku dan mulai diremas-remas biji kejantananku. Tanganku sendiri asyik meremas-remas payudaranya yang montok dan mencuat. Kuselipkan tanganku ke balik kaos yang dipakainya dan kusibakkan BH-nya. Mulailah kupilin-pilin putingnya yang masih kecil tetapi sudah mengeras.

"Ooo... shhh... geliii... Om..," Vivian mulai mendesah, "Aduh... ahhh... shhh... enakkk... terusss..," suaranya terdengar begitu merangsang.
Pahaku mulai diciumi Vivian, sekali-kali dijilatnya. Aku benar-benar kegelian, kurasakanpenisku mulai basah. Apakah Vivian sering nonton blue film, kok pintar begitu, atau memang sedang puber?
"Om... boleh ngga lihat anunya?" malu-malu Vivian bertanya kepadaku.
"Boleh... boleh..." jawabku sambil melepaskan celana pendek serta celana dalamku.
Dia tampaknya benar-benar horny, tangannya gemetar memegang penisku yang tegang dan membengkak. Kuambil tangannya yang lain dan kuarahkan ke biji kemaluanku. Vivian secara otomatis mulai meremas-remas batang dan biji kejantananku dan aku juga mulai meremas-remas payudaranya serta sekali-kali memilin putingnya. Kami lakukan itu sekitar 15 menit.

"Vivian... jilat dong penis Om..," aku mulai membujuknya.
"Tapi Vivian ngga pernah dan ngga bisa Om..," jawab Vivian malu-malu.
"Anggap saja kamu lagi jilat ice cream atau permen begitu..." kataku sambil mendekatkan batang kejantananku ke mulutnya yang mungil.
Dan Vivian tidak lagi menolak, dia mulai menjilat batang penisku, lidahnya begitu kecil danmenimbulkan sensasi yang luar biasa. Tanganku memegang kepalanya dan mengarahkan ke buah kejantananku, terus turun ke lubang anusku, naik kembali ke buah kejantananku, naik ke batang dan berakhir di kepala kemaluanku, demikian berulang kali naik turun. Setelah kurasakan Vivian mulai mahir, kulepaskan tanganku yang memegang kepalanya. Amboi... sebentar saja Vivian sudah menguasai pelajaranku. Tanganku mulai kumasukkan ke dalam celana pendeknya dan terus menyibak celana dalamnya.

Aku mulai meraba-raba vaginanya yang masih gundul alis botak tidak berbulu. Vivian menggelinjang kegelian, tetapi masih tetap menjilati batang kejantananku. Kepalaku mulai nyut-nyutan dan darahku semakin kencang mengalir, wah... harus cepat-cepat nih. Dengan jari tangan kubuka lipatan vagina Vivian dan kuputar-putar di klitorisnya, sekali-kali kuarahkan jariku ke lubang anusnya dan kutusuk-tusuk lembut. Pinggul Vivian bergoyang-goyang antara kegelian dan sekaligus nikmat.
"Vivian... sekarang masukkan penis Om ke dalam mulut kamu dan hisap pelan-pelan." kataku terengah-engah.
Vivian memasukkan batang kejantananku ke mulutnya dan mulai menghisap-hisap.

Kugoyang-goyangkan pinggulku sehingga penisku keluar masuk mulutnya yang mungil. Tanganku tidak berhenti mempermainkan vaginanya. Dan tiba-tiba kulihat pinggul Vivian semakin cepat bergoyang, ah... dia pasti hampir orgasme. Aku pun semakin mempercepat goyangan pinggulku dan penisku semakin cepat keluar masuk mulutnya yang mungil, tanganku pun semakin cepat memilin-milin klitorisnya. Pinggul Vivian terangkat ke atas, pahanya menjepit jari tanganku. Bersamaan itu, di dalam mulutnya, batang kejantananku memuntahkan air mani yang begitu banyak, sebagian tertelan olehnya dan sebagian mengalir keluar dari ujung bibirnya. Ooo... nikmatnya..., setelah orgasme yang bersamaan, Vivian terbaring lemas di lantai. Kuambil tissue dan kubersihkan mulutnya serta liang kegadisannya. Setelah bersih semua, kurapikan kembali celana pendek dan kaosnya. Matanya terpejam dan mulutnya tersenyum persis senyum Donna kakaknya. Kucium keningnya dan terus keluar kamar. Pasti nyenyak tidur siangku hari ini.

Terakhir adalah pengalamanku bersama Lisa yang berumur 11 tahun dan baru duduk di kelas V SD. Di antara mereka bertiga, si Lisa inilah yang paling cantik dan sangat manja denganku. Aku tidak malu-malu mencium pipinya yang halus dan dia pun tidak malu-malu duduk di pangkuanku. Kadang-kadang penisku sakit karena diduduki Lisa dengan mendadak, tetapi kupikir dia tidak sengaja. Pada suatu malam Minggu, abang sepupuku, istrinya, Donna dan Vivian pergi menghadiri pesta pernikahan. Di rumah tinggal aku, Lisa dan dua orang pembantu. Jam di dinding menunjukkan pukul 19:30. Di ruang keluarga, hanya aku dan Lisa yang sedang menonton televisi yang kebetulan saat itu menayangkan film barat, sedangkan dua orang pembantu berada di kamar mereka.

"Om... pangku Lisa dong..." kata Lisa dengan manjanya.
"Yuk... sini duduk di pangkuanku," kataku sambil menarik tubuhnya ke pangkuanku.
Setelah Lisa duduk di pangkuanku, kucium pipinya yang putih seperti biasanya.
"Ih... Om genit deh..." kata Lisa sambil memukul pahaku.
Aku hanya tertawa dan melanjutkan tontonan di televisi. Sambil menonton, kami bercerita mengenai jalan cerita film tersebut.
"Om... Lisa agak dingin nih, peluk Lisa dong..." pinta Lisa dengan manja.
Maka kupeluk badannya yang masih kecil sambil sekali-kali kucium pipinya yang membuatku gemas.

Setelah kupeluk sekitar 15 menit, aku merasakan duduk Lisa tidak mantap, pinggulnya bergerak terus. Aku melebarkan kakiku sehingga lebih rileks dan pada saat itu mendadak Lisa memundurkan pinggulnya sehingga menempel di kemaluanku seperti biasanya. Karena sudah biasa aku tidak kagetdan diam saja. Tetapi semakin lama Lisa semakin gelisah dan pinggulnya mulai menggesek-gesekke arah kemaluanku. Mau tidak mau, kemaluanku jadi berdiri tegak dan mengeras. Merasakan kemaluanku mengeras, Lisa semakin merapatkan pinggulnya dan menggesek-gesekanya. Konsentrasiku menonton film di televisi mulai buyar. Aku memandangi Lisa dan berpikir apakah mungkin anak ini juga sudah mengenal libido? Rasanya tidak mungkin karena baru berumur 11 tahun. Memang kadang-kadang secara tidak sengaja, aku menyentuh dadanya dan terasa sudah ada yang tumbuh di sana.

"Lisa... Om mau nanya kamu, tapi jawab yang jujur dan ngga usah malu-malu ya..?" kataku kepadanya.
"Nanya apaan sih Om..?" tanyanya sambil tersenyum.
"Apakah kamu sudah pernah menstruasi?" tanyaku langsung.
"Sudah Om... setahun yang lalu Lisa mulai mens..." jawabnya tersipu-sipu karena malu.
"Ha..? Umur 10 tahun sudah mens..., wah-wah... ternyata anak sekarang semakin cepat pertumbuhannya." pikirku.
Jelas saja Lisa kelihatan mulai gatal dan suka duduk di pangkuanku. Apalagi sekarang dia mengesek-gesekkan pinggulnya ke arah kemaluanku yang mulai mengeras. Berarti dia sudah mempunyai libido dong.

Akhirnya kubiarkan saja Lisa mengesek-gesekkan pinggulnya ke kemaluanku yang tegang dan membesar. Aku pun mulai menikmatinya. Tanganku yang memeluknya mulai bergerilya. Pelan-pelan kuraba dadanya yang baru tumbuh dan mulai kuremas. Benar-benar payudaranya masih kecil dan sangat kencang. Lisa hanya memakai kaos dalam, karena mungkin memang tidak ada BH yang kecil. Dapat kurasakan putingnya yang mengeras dan baru sebesar kacang ijo. Kuremas-remas dan kupilin-pilin putingnya itu, dia menggelinjang kegelian.
"Om... geliii.. Om..." Lisa mendesah halus.
"Kamu diam saja.., rasanya enak kok..." jawabku.
Aku mulai mencium pipinya, lehernya dan kujilat-jilat belakang telinganya, sekali-kali kumasukkan ujung lidahku ke dalam lubang telinganya dan Lisa menggeliat kegelian, nafsuku semakin naik.

"Aduh... geliii... geliii..." Lisa menjerit kecil.
Tanganku mulai menyusup ke balik kaosnya dan terasa kulit tubuhnya yang begitu halus. Tanganku mulai turun ke bawah dan terus ke selangkangan Lisa. Sama seperti Vivian, Lisa pun masih gundul alias botak. Tanganku meraba-raba vaginanya yang kecil dan mulai kuselipkan jariku membuka lipatan kegadisannya. Klitorisnya begitu kecil dan lembut dan mulai kupilin-pilin serta menekan halus.
"Shhh... ahhh... aduhhh... shhh... shhh..." Lisa mendesah-desah karena keenakan.
Sementara itu lidahku terus bermain di leher dan telinganya, tangan kiriku terus meremas-remaspayudaranya yang kecil sambil memainkan putingnya.

Tubuh Lisa tersandar lemas ke tubuhku dan pinggulnya semakin kencang menggesek-gesek batang kejantananku yang mulai basah. Sekali-kali paha Lisa mengejang dan menjepit jari tanganku, kubiarkan Lisa menikmati pengalaman pertamanya. Terus kulanjutkan semua gerakanku dan tiba-tiba Lisa mengerang kecil, pinggulnya terangkat ke atas, pahanya mengejang dan menjepit jariku. Lisa mendapatkan orgasmenya yang pertama dan mengerang terus.
"Ahhh... shhh... shhh... ahhh..." suara Lisa tersendat-sendat.
Cepat-cepat kumasukkan ujung lidahku ke dalam lubang telinganya dan kuputar-putar lidahku. Aku sendiri mengalami orgasme yang hebat, air maniku menyemprot di dalam celana dalamku sehingga aku merasa celana dalamku basah kuyup bagai kencing di dalam celana.

Setelah Lisa tenang, kukeluarkan tangan kananku dari dalam celananya dan tangan kiriku dari dalam kaosnya. Tubuh Lisa masih tersandar lemas di tubuhku, kucium lembut pipinya, matanya terpejam dan bibirnya tersenyum mirip senyuman Donna dan Vivian kakaknya. Kuangkat tubuhnya dan kugendong ke kamarnya. Dengan hati-hati kuletakkan di atas ranjang dan kuselimuti. Kucium pipinya sekali lagi dan kumatikan lampu kamar dan aku keluar melanjutkan tontonan film di telivisi.

Nah, pembaca yang terhormat, itulah pengalamanku bersama ketiga keponakanku yang cantik dan montok. Sekarang aku sudah bekerja di kota lain dan mereka juga sudah kuliah. Kalau aku pulang ke kotaku dan bertemu mereka, mereka hanya tersenyum seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal terus terang masih ada keinginanku untuk mengulangi pengalaman yang dulu bersama mereka, tetapi aku malu mengatakannya. Semoga mereka membaca tulisanku ini dan memberikukesempatan untuk mengulanginya lagi.

0 komentar:

Post a Comment